Saturday, July 28, 2007

Cinta Sufistik

By Faisal Tehrani. http://jawapancinta.blogspot.com/

Mahabbah atau cinta, demikianlah kaum sufi menyebut tradisi bercinta mereka.Adalah Imam al Qusyairi, pengarang Risâlah al Qusyairiyyah mendefinisikan cinta (mahabbah) Allah kepada hamba sebagai kehendak untuk memberikan nikmat khusus kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Apabila 'kehendak tersebut tidak diperuntukkan khusus melainkan umum untuk semua hambaNya' menurut Qusyairi dinamakan Rahmat; kemudian jika irâdah tersebut berkaitan dengan azab disebut dengan murka(ghadlab).

Masih dalam konteks yang sama, lebih jauh al Qusyairi memaparkan definisi mahabbah tersebut versi kaum salaf; mereka mengertikan cinta sebagai salah satu sifat khabariyyah lantas menjadikannya sebagai sesuatu yang mutlak, tidak dapat diartikulasikan sebagaimana rupa seperti halnya mereka cenderung tidak memberikan penafsiran yang lebih dalam lagi, sebab apabila cinta diidentikkan dengan kecenderungan pada sesuatu ataupun sikap ketergantungan, alias cinta antara dua manusia, maka mereka menganggap hal itu sangatlah mustahil untuk Allah Swt. Interprestasi yang demikian ini memang lebih cenderung berhati-hati seperti halnya mereka (baca: kaum salaf) sangat menekankan metode tafwîdl dalam permasalahan yang bersifat ilâhiyah.Kaum Sufi menganggap mahabbah sebagai modal utama sekaligus mauhibah dari Allah Swt, untuk menuju ke puncak ahwâl yang lebih tinggi.Imam al Ghazâli memposisikan cinta ini sedarjat dengan taubat dalam maqâmât. Beliau berpendapat: bagaimana seorang sufi boleh merasakan 'imanensi' ataupun fana tanpa didahului oleh rasa cinta, suatu hal yang mustahil tentunya; bagaimana mungkin Qois rela mengakhiri hidupnya demi seorang Laila tanpa ada cinta antara keduanya? Sungguh senario itu tak akan pernah terjadi.

Fakta ini pun disetujui oleh sebahagian besar para sarjana muslim; Dr.Faishal badîr 'Aun misalnya, mengatakan bahawa kaum sufi akan sulit menyelesaikan petualangan spiritualnya tanpa dibekali mahabbah yang merupakan anugerah Allah semata; jika tangga awal cinta ini boleh dilalui maka tangga ahwâl selanjutnya pun akan mudah terlewati.Nah, dalam konteks cinta ilahi ini kaum sufi memakai dalil-dalil dari Al-Quran dan As- Sunnah. Dua ayat al Quran yang sering dijadikan landasan ialah ayat ke 31 dari surat Ali Imran dan ayat ke 54 surat al Maidah.

Kedua ayat ini menempati posisi penting dalam budaya bercinta seorang sufi; karena secara tersirat atupun tersurat, keduanya mengisyaratkan bahwa cinta yang terjadi antara Tuhan dan makhluk-Nya adalah sebuah kenescayaan, pasti terjadi. Namun bukan bererti cinta itu terjalin begitu saja melainkan buah hasil dari mujâhadah yang berterusan dan berkualiti.Al Wâsithî mengulas ayat kedua di atas terutama pada lafadz "yuhibbuhum wa yuhibbûnahu" bahawa Allah Swt dengan zat-Nya akan mencintai mereka (hamba-hambanya-Nya) seperti halnya mereka mencintai sang Khâliq dengan zat-Nya yang suci. Dengan demikian huruf ha yang terdapat di situ kembali kepada zat bukan sekadar sifat-sifat, dalam erti secara hakiki cinta tersebut memang benar adanya.Berangkat dari sini maka kaum sufi mewajarkan budaya cinta mereka serta menescayakan hal tersebut. Apabila sebuah tradisi itu termaktub dalam Al-Quran, mengapa tidak mencuba untuk diterapkan?.Tradisi ini diperkuat lagi dengan beberapa hadis Rasulullah saw yang terjamin keabsahannya. Salah satu contohnya hadis Qudsi yang diriwayatkan Anas bin Mâlik:

Dalam matan hadis ini Allah Swt berfirman :"....Hatta uhibbuhu... "yang berlanjut dengan sebuah kenyataan yang lebih konkrit;"...waman ahbabtuhu kuntu lahu sam’a....,"yang jelas merupakan manifestasi dari cinta Zat Abadi ini.Masih banyak dalil yang melandasi salah satu tradisi suci kaum sufi, seperti dua hadis riwayat Abu Hurairah dengan rawi pertama Naîm abd al Mâlik dalam hadis pertama, sedangkan Alî bin Ahmad bin Abdân sebagai perawi pertama dari hadis kedua.Nah, dalil dalil di atas baik Al-Quran maupun As-sunah mereka 'sinergi'kan sedemikian rupa menjadi 'kalau boleh disebut: "landasan hukum" yang memang absah dan terjamin legalitinya, ya, tentunya bersumber dari Zat yang Maha Mengetahui.

Kemudian mengenai konteks cinta secara garis liner seorang hamba kepada Khaliqnya menurut penulis sangatlah relatif, tidak boleh di'umum'kan atau digeneralisasikan pengertiannya. Al Qusyairi menyebutkan ada banyak definisi tentang mahabbah; dari sekian penafsiran tersebut jika kita lihat sangatlah berkaitan dengan pengalaman (tajribah) peribadi seorang sufi yang mungkin berbeza satu sama lain.Abû Yazîd al Basthâmî mendefinisikan Mahabbah sebagai sikap menganggap sedikit sesuatu yang banyak yang berasal dari diri kita dan menilai hal sedikit yang bersumber dari kekasih kita sebagai sesuatu yang besar.

Berbeza dengan al Junaid, guru al Hallâj yang akrab dengan jolokan sayyid al Thâifah mengertikan kata yang bernilai sufistik ini dengan masuknya sifat-sifat Zat yang dicintai mengganti apa yang ada di jiwa sang Pencinta; mendorong seorang pencinta untuk tidak mengingat selain Zat tersebut serta melupakan dan mencampakkan secara total sifat-sifat yang dulunya melekat di dirinya. Namun bagaimanapun persepsi orang, penafsiran tersebut tidak boleh keluar dari landasan hukum di atas.Mengenai bilakah budaya cinta ini mulai mentradisi; Abd al Rahmân Badawî menyebutkan bahwa Rabi'ah al Adawiyyah (beliau terkenal dengan jolokannya Syahîdat alIsyq al Ilâhî, hidup pada masa khalifah Harun al Râsyîd) adalah sufi pertama yang mengumandangkan syiar bercinta ini.Berangkat dari siniseperti yang dipaparkan Abd al Rahmân Badawî, ada sebuah polemik yang menarik; tentang dialektika yang terjadi antara tiga istilah yang berbeza, namun sering kita salah ertikan iaitu: al 'Isyq, Mahabbah dan al Khullah.

Dialektika ini terjadi kerana ada persamaan di antara ketiga istilah tersebut, meskipun pada akhirnya kesemuanya tidak bisa bertemu di satu titik kesepakatan. Abd al wâhid bin Zaid berpendapat bahwa kalimat isyq lebih diakui dalam perbincangan mengenai Allah, karena lanjutnya kalimat mahabbah tidak sesuai dengan Al-Quran dan merupakan warisan Yahudi dan Kristiani. Namun bagaimanapun, kata Mahabbah yang dipilih Abân bin Abî Ayyâsy dan disetujui beberapa tokoh lain seperti Rabî'ah sendirilah yang akhirnya lebih mendominasi sampai sekarang.

Abd al Rahmân Badawî menegaskan Mahabbah merupakan satu-satunya lafaz yang tertulis dalam Al-Quran dan As-sunnah; Sedangkan termasuk Isyq sendiri adalah sebuah ibarat tentang cinta yang berlebihan, tentunya Islam tidak mengajarkan itu apalagi secara 'legal formal' seperti apa yang Abd Al Wahîd usulkan, bagaimana mungkin seorang hamba boleh mendapatkan takaran cinta lebih dari apa yang telah ditakdirkan? Mengenai al Khullah, pengarang kitab Jâmi' al Ushûl mengatakan asal mula kata ini adalah Khalla al Syai fî al syaii (menyatunya dua hal yang berbeda); kondisi inilah yang sering diertikan sebagai keadaan gugur kewajiban, karena kedekatan antara seorang hamba dan Khaliqnya maka menurut pemahaman sufi tersebut ia pun terbebas dari syariat, tak ada perintah dan larangan apalagi sekadar halal dan haram.Untuk hal yang satu ini (gugurnya kewajiban, karena kedekatan antara seorang hamba dan Khaliqnya) jelas berseberangan dengan batas agama, kerana bagaimanapun Ibrahim as adalah Khâlilullâh namun baginda sendiri tidak begitu saja meninggalkan kewajiban terlebih melanggar halal haram seperti yang disebutkan.

Terakhir kali, jika Râbi'ah dalam Syairnya pernah berkata bahwa dia mencinta Tuhannya dengan dua cinta; cinta hasrat dengan melupakan segala sesuatu selain-Nya dan cinta karena Dialah Pemilik cinta itu, agar ia pun boleh melihat-Nya tanpa ada hijab yang menghalangi.

Jika cinta sejati itu benar adanya; cinta abadi yang tak berkecenderungankan duniawi, maka inilah cinta sejati.

0 comments:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money